Bertemu orang-orang baru, membicarakan hal-hal yang awalnya dianggap tabu. Bercerita, bercanda, berbagi apa yang bisa diberitakan. Sungguh suatu pengalaman seru yang kudapatkan hari ini.
Dunia ini tak hanya selebar daun kelor. Bila dipandangi dari sudut yang berbeda ternyata dunia ini masih sangat luas untuk dijelajahi. Mulai saja berkeliling dari timur, selatan, barat, dan utara begitu seterusnya. Meskipun dilalui beberapa kali kita dapat menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita lihat. Jangan juga merasa heran jika menemukan hal yang terlihat sebelumnya dalam kondisi yang berbeda.
Jujur saja ketika tulisan ini tertuang disini, aku hanyalah wanita yang sangat biasa. Sampai detik ini juga masih tetap wanita biasa yang akan terus mengembangkan kemampuan diri. Untuk itu aku membutuhkan suasana yang berbeda. Keadaan ini sebenarnya bertolak-belakang dengan keseharianku.
Aku lebih sering terkurung dirumah, mengerjakan sesuatu yang jarang dilakukan wanita masa kini. Membereskan rumah dan sebagainya layaknya seorang ibu rumah tangga. Aku sangat menikmatinya dan seringkali tenggelam kedalamnya. Hingga terkadang lupa bahwa diluar sana masih sangat banyak perihal yang tidak diketahui olehku. Teman-temanku sampai mencemaskan kebiasaanku ini. Mereka bertanya apa diriku tidak bosan dengan rutinitas yang hampir tidak pernah bertemu orang-orang lagi.
~to be continued...~
Ini cerita tentang aku dan hidupku. Semoga hidup ini tetap indah meski ujian selalu menyapa ^^
Senin, 19 Desember 2011
Kamis, 17 Maret 2011
Layang-layang Bulan
Senja, jam belum juga menunjukkan pukul 6 sore. Tepatnya setengah jam yang lalu aku duduk diteras kamarku. Mengamati langit sore yang beragam warnanya. Disebelah kanan dan kiriku langit berwarna abu-abu menandakan mendung akan mengundang hujan, sedangkan tepat ditengah-tengahku terlihat biru dan cerah.
Kuamati langit yang seluas samudera -lautan diatas daratan- itu dengan seksama. Samar-samar terlihat benda kecil yang meliuk-liuk seperti ular yang merayap. Oh ternyata sebuah layang-layang. Ukurannya mungkin sekitar satu cm dari tempat ku melihat, tapi aku yakin ukuran sebenarnya cukup besar.
Layang-layang itu tak sendiri. Sekitar satu depa ukuran tanganku dari ujung kanan ke ujung kiri ada bulan 3/4 yang besar berwarna putih pucat. Masih senja tapi bulan itu tak cukup sabar menunggu malam untuk memperlihatkan dirinya. Suatu pemandangan indah dan tak biasa ditengah kota besar. Jarang-jarang aku temui pemandangan seperti ini. Aku sangat menikmatinya dan perlahan-lahan ku tarik nafas menghirup segarnya senja ini. Kemudian perlahan-lahan lagi ku hembuskan keluar seolah ikut mengeluarkan segala yang ada didalam diriku.
Samar-samar ku dengar suara azan berkumandang. Pertanda telah masuk waktu magrib. Seruan bagi umat muslim untuk menunaikan shalat magrib. Kembali ku dongakkan kepala melihat langit. Tanpa ku sadari bulan itu tak terlihat lagi. Awan mendung menutupinya. Sedangkan layang-layang itu masih tetap meliuk-liuk. Entah siapa yang memainkannya, tapi sebaiknya ia menyudahi petualangannya diudara karena malam telah menjelang.
Aku pun akan mengakhiri keasyikan mengamati langit senja, layang-layang, dan bulan sore ini. Harapanku semoga malam ini bulan itu akan bersinar terang dan layang-layang tak lagi meliuk didalam gelap. Kemudian aku beranjak masuk, menutup pintu sedikit demi sedikit sehingga tertutup rapat.
Kuamati langit yang seluas samudera -lautan diatas daratan- itu dengan seksama. Samar-samar terlihat benda kecil yang meliuk-liuk seperti ular yang merayap. Oh ternyata sebuah layang-layang. Ukurannya mungkin sekitar satu cm dari tempat ku melihat, tapi aku yakin ukuran sebenarnya cukup besar.
Layang-layang itu tak sendiri. Sekitar satu depa ukuran tanganku dari ujung kanan ke ujung kiri ada bulan 3/4 yang besar berwarna putih pucat. Masih senja tapi bulan itu tak cukup sabar menunggu malam untuk memperlihatkan dirinya. Suatu pemandangan indah dan tak biasa ditengah kota besar. Jarang-jarang aku temui pemandangan seperti ini. Aku sangat menikmatinya dan perlahan-lahan ku tarik nafas menghirup segarnya senja ini. Kemudian perlahan-lahan lagi ku hembuskan keluar seolah ikut mengeluarkan segala yang ada didalam diriku.
Samar-samar ku dengar suara azan berkumandang. Pertanda telah masuk waktu magrib. Seruan bagi umat muslim untuk menunaikan shalat magrib. Kembali ku dongakkan kepala melihat langit. Tanpa ku sadari bulan itu tak terlihat lagi. Awan mendung menutupinya. Sedangkan layang-layang itu masih tetap meliuk-liuk. Entah siapa yang memainkannya, tapi sebaiknya ia menyudahi petualangannya diudara karena malam telah menjelang.
Aku pun akan mengakhiri keasyikan mengamati langit senja, layang-layang, dan bulan sore ini. Harapanku semoga malam ini bulan itu akan bersinar terang dan layang-layang tak lagi meliuk didalam gelap. Kemudian aku beranjak masuk, menutup pintu sedikit demi sedikit sehingga tertutup rapat.
Rabu, 02 Maret 2011
Antara Aku dan Tuhanku
Kosong. Terasa ada ruang yang hampa didalam hatiku. Seperti gurun pasir yang hanya ada oase menghiasi padang tandusnya. Ibarat unta yang telah berhari-hari tidak diberi minum oleh pemiliknya.
Kekosongan dan kehampaan yang tiba-tiba kurasakan biasanya adalah pertanda bahwa ada yang salah pada diriku. Sesak yang menghimpit dadaku semakin membelenggu perasaanku dengan ketidaknyamanan. Apakah karena aku telah melupakan sesuatu yang sangat penting? Sehingga wajar saja seketika ini aku merasa sangat jauh dan ditinggalkan. Astaghfirullah....
Berkali-kali terucap istighfar dari mulutku disaat aku menyadari apa yang sesungguhnya aku alami. Aku terlalu lena dalam kebahagiaan duniawi sehingga alpa akan kebahagiaan yang hakiki. Bersenang-senang dengan keindahan dunia fana dan terlupa akan adanya keindahan lain yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Ini antara aku dan Tuhanku. Begitu tersesatkah hatiku hingga kehampaan didalam hati yang telah diisi dengan zikir dan doa belum mampu melegakan perasaanku. Ingin sekali rasanya menangis namun tak sedikit pun air mata yang keluar membasahi kedua pipiku. Hatiku merintih, berteriak memanggil Tuhanku, "Ya Allah...., astaghfirullahal 'adzim."
Sungguh berat yang menghimpit rongga dadaku. . . .
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini atas kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat. Ya Allah, terangilah pintu hatiku dengan Nur-mu karena sesungguhnya aku takut akan kegelapan."
Sebaris doa aku panjatkan kepada Tuhanku. Berharap agar terlepas dari kehampaan dan kekosongan yang senag merongrong batinku. Ketakutan menghampiri, jika Tuhan menjauhiku.
Pernahkah terpikir olehmu wahai temanku?
Jika Tuhan melupakan umat-Nya, apa yang akan terjadi?
Aku tak pernah sanggup memebayangkan kemungkinan yang terjadi. Sudah banyak contoh yang Dia berikan sebagai peringatan ketika kita sendiri yang melupakan-Nya. Bersegeralah untuk kembali mengingat-Nya. Hanya dengan mengingat Tuhan akan menjadi penawar dari segala kehampaan, kegundahan, dan kebekuan yang merupakan tanda-tanda dari hati yang sakit dan tertinggal oleh nikmat-Nya.
Memang benar bahwa manusia takkan pernah terlepas dari hubungan dengan Tuhannya. Manusia sangat membutuhkan Tuhan didalam hidupnya. Ketika bahagia yang dirasakan, jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Begitu pula sebaliknya ketika sedang diuji oleh-Nya, maka bersabar dan berserahlah kepada-Nya.
Tak akan ada ketenangan hati ketika Tuhan sedang menegurku. Gelisah dan gundah, kosong dan hampa. Oleh sebab itu, aku tak pernah mau dijauhi oleh Tuhanku. Berzikir, berdoa dan melantunkan ayat suci-Nya selalu kulakukan agar memperoleh ketenangan dan kesejukan hati.
Kekosongan dan kehampaan yang tiba-tiba kurasakan biasanya adalah pertanda bahwa ada yang salah pada diriku. Sesak yang menghimpit dadaku semakin membelenggu perasaanku dengan ketidaknyamanan. Apakah karena aku telah melupakan sesuatu yang sangat penting? Sehingga wajar saja seketika ini aku merasa sangat jauh dan ditinggalkan. Astaghfirullah....
Berkali-kali terucap istighfar dari mulutku disaat aku menyadari apa yang sesungguhnya aku alami. Aku terlalu lena dalam kebahagiaan duniawi sehingga alpa akan kebahagiaan yang hakiki. Bersenang-senang dengan keindahan dunia fana dan terlupa akan adanya keindahan lain yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Ini antara aku dan Tuhanku. Begitu tersesatkah hatiku hingga kehampaan didalam hati yang telah diisi dengan zikir dan doa belum mampu melegakan perasaanku. Ingin sekali rasanya menangis namun tak sedikit pun air mata yang keluar membasahi kedua pipiku. Hatiku merintih, berteriak memanggil Tuhanku, "Ya Allah...., astaghfirullahal 'adzim."
Sungguh berat yang menghimpit rongga dadaku. . . .
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini atas kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat. Ya Allah, terangilah pintu hatiku dengan Nur-mu karena sesungguhnya aku takut akan kegelapan."
Sebaris doa aku panjatkan kepada Tuhanku. Berharap agar terlepas dari kehampaan dan kekosongan yang senag merongrong batinku. Ketakutan menghampiri, jika Tuhan menjauhiku.
Pernahkah terpikir olehmu wahai temanku?
Jika Tuhan melupakan umat-Nya, apa yang akan terjadi?
Aku tak pernah sanggup memebayangkan kemungkinan yang terjadi. Sudah banyak contoh yang Dia berikan sebagai peringatan ketika kita sendiri yang melupakan-Nya. Bersegeralah untuk kembali mengingat-Nya. Hanya dengan mengingat Tuhan akan menjadi penawar dari segala kehampaan, kegundahan, dan kebekuan yang merupakan tanda-tanda dari hati yang sakit dan tertinggal oleh nikmat-Nya.
Memang benar bahwa manusia takkan pernah terlepas dari hubungan dengan Tuhannya. Manusia sangat membutuhkan Tuhan didalam hidupnya. Ketika bahagia yang dirasakan, jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Begitu pula sebaliknya ketika sedang diuji oleh-Nya, maka bersabar dan berserahlah kepada-Nya.
Tak akan ada ketenangan hati ketika Tuhan sedang menegurku. Gelisah dan gundah, kosong dan hampa. Oleh sebab itu, aku tak pernah mau dijauhi oleh Tuhanku. Berzikir, berdoa dan melantunkan ayat suci-Nya selalu kulakukan agar memperoleh ketenangan dan kesejukan hati.
Minggu, 13 Februari 2011
Ketika Kau Pergi
Selalu butuh waktu untuk menyadari keadaan yang sesungguhnya terjadi. Tak terasa kesepian mulai melanda hari-hariku. Kemana keceriaan yang dulu menemaniku? Ibarat semut yang kehilangan koloninya, tertatih mencari arah yang harus dituju. Kebingungan meskipun dihadapannya ada jalan untuk dilalui.
Aku bukan seekor semut. Sedikitpun tak terbayangkan olehku jika harus berjalan seorang diri, berkelana tanpa tahu harus kemana. Oh Tuhan, jangan tinggalkan diriku sendiri seperti ini. Berikan aku petunjuk tentang jalan yang boleh aku lalui.
Inilah yang terjadi ketika kau pergi meninggalkanku. Separuh dari jiwaku telah pergi bersama kepergianmu. Sebentuk wajah yang terbiasa kupandangi tanpa rasa jemu ikut berlalu. Begitu berpengaruhnya kepergianmu dalam hidupku, begitu menyakitkan. Semua kata-kata cinta untukmu menghilang tiba-tiba meskipun hatiku masih ingin mangatakannya padamu. Tapi untuk apa???
Tak pernah kurasakan yang sesakit ini ketika ditinggalkan. Benar, ini bukan yang pertama kalinya tapi mengapa ini yang justru sangat menyakitiku? Seharusnya aku baik-baik saja.
Apa aku harus bilang, aku baik-baik saja? Rasa rindu ini membuatku tidak baik-baik saja. Rasa sakit ini membuatku nyeri dihati. Rasa cinta ini membuatku kecewa setengah mati. Setiap yang kulakukan mengingatkanku akan dirimu.
Baiklah, aku akan merelakan kepergianmu. Mengikhlaskan kehilangan dirimu. Melapangkan langkah-langkahmu menuju tempat terindah. Aku tahu bahwa kita tercipta berpasangan. Telah kuberikan jiwa ragaku padamu. Sisakan sedikit untukku yang tertinggal disini agar aku bisa bangkit dari kesedihan ini. Selamat jalan sayang... I love You.
Aku bukan seekor semut. Sedikitpun tak terbayangkan olehku jika harus berjalan seorang diri, berkelana tanpa tahu harus kemana. Oh Tuhan, jangan tinggalkan diriku sendiri seperti ini. Berikan aku petunjuk tentang jalan yang boleh aku lalui.
Inilah yang terjadi ketika kau pergi meninggalkanku. Separuh dari jiwaku telah pergi bersama kepergianmu. Sebentuk wajah yang terbiasa kupandangi tanpa rasa jemu ikut berlalu. Begitu berpengaruhnya kepergianmu dalam hidupku, begitu menyakitkan. Semua kata-kata cinta untukmu menghilang tiba-tiba meskipun hatiku masih ingin mangatakannya padamu. Tapi untuk apa???
Tak pernah kurasakan yang sesakit ini ketika ditinggalkan. Benar, ini bukan yang pertama kalinya tapi mengapa ini yang justru sangat menyakitiku? Seharusnya aku baik-baik saja.
Apa aku harus bilang, aku baik-baik saja? Rasa rindu ini membuatku tidak baik-baik saja. Rasa sakit ini membuatku nyeri dihati. Rasa cinta ini membuatku kecewa setengah mati. Setiap yang kulakukan mengingatkanku akan dirimu.
Baiklah, aku akan merelakan kepergianmu. Mengikhlaskan kehilangan dirimu. Melapangkan langkah-langkahmu menuju tempat terindah. Aku tahu bahwa kita tercipta berpasangan. Telah kuberikan jiwa ragaku padamu. Sisakan sedikit untukku yang tertinggal disini agar aku bisa bangkit dari kesedihan ini. Selamat jalan sayang... I love You.
Jumat, 11 Februari 2011
Rindumu Bukan Milikku
Deg... Deg... Debar yang beberapa waktu terakhir ini menguasai hatiku semakin melemah...
Hati manusia selalu dapat berubah secara drastis, kapan pun dia mau. Beberapa saat yang lalu kita bisa merasakan kerinduan yang luar biasa. Namun beberapa saat kemudian kerinduan itu bisa menguap begitu saja. Setiap orang pernah mengalaminya. Tapi saat ini aku hanya akan bercerita tentang diriku sendiri. Tentang kerinduan ini terhadap dirimu. Keinginan untuk melihat wajahmu, mendengar suaramu, bahkan hanya sekedar mengintip aktivitasmu didunia maya.
Kamu --meskipun keberadaanmu semu-- mamapu menggugah perasaanku. Menyentuhku dititik paling dalam akan cinta. Begitu kuatkah kamu mengusik kehidupan asmaraku?
Namun sayang, kerinduan ini kurasakan seorang diri. Aku lelah untuk merasakan rindu yang tak berujung. Mentolerir sesuatu yang belum memiliki kepastian adalah hal yang ingin kuhindari. Cukup sudah bertepuk sebelah tangan --tak akan pernah berbunyi.
Pada kenyataannya akhir-akhir ini kamu tidak pernah memperlihatkan hal yang sama. Aku rindu ketika kamu bilang "aku rindu kamu". Kalimat itu terucap pada saat bahwa kamu tahu aku juga sangant merindukanmu. Haruskah ini menjadi sulit untuk dimengerti?
Untuk siapakah rindumu kini? Rindumu bukan milikku --hatiku bicara. Kamu tak mudah untuk dipahami, terlalu jauh untuk diperhatikan sedetil mungkin. Begitu besar tanda tanya yang kamu tinggalkan untukku.
Jika memang rindumu diberikan pada seseorang disana, sisakan sedikit demi perasaanku yang terluka. Kan ku simpan dilubuk hatiku dan ku kunci rapat-rapat agar tak dapat kau ambil kembali.
Hati manusia selalu dapat berubah secara drastis, kapan pun dia mau. Beberapa saat yang lalu kita bisa merasakan kerinduan yang luar biasa. Namun beberapa saat kemudian kerinduan itu bisa menguap begitu saja. Setiap orang pernah mengalaminya. Tapi saat ini aku hanya akan bercerita tentang diriku sendiri. Tentang kerinduan ini terhadap dirimu. Keinginan untuk melihat wajahmu, mendengar suaramu, bahkan hanya sekedar mengintip aktivitasmu didunia maya.
Kamu --meskipun keberadaanmu semu-- mamapu menggugah perasaanku. Menyentuhku dititik paling dalam akan cinta. Begitu kuatkah kamu mengusik kehidupan asmaraku?
Namun sayang, kerinduan ini kurasakan seorang diri. Aku lelah untuk merasakan rindu yang tak berujung. Mentolerir sesuatu yang belum memiliki kepastian adalah hal yang ingin kuhindari. Cukup sudah bertepuk sebelah tangan --tak akan pernah berbunyi.
Pada kenyataannya akhir-akhir ini kamu tidak pernah memperlihatkan hal yang sama. Aku rindu ketika kamu bilang "aku rindu kamu". Kalimat itu terucap pada saat bahwa kamu tahu aku juga sangant merindukanmu. Haruskah ini menjadi sulit untuk dimengerti?
Untuk siapakah rindumu kini? Rindumu bukan milikku --hatiku bicara. Kamu tak mudah untuk dipahami, terlalu jauh untuk diperhatikan sedetil mungkin. Begitu besar tanda tanya yang kamu tinggalkan untukku.
Jika memang rindumu diberikan pada seseorang disana, sisakan sedikit demi perasaanku yang terluka. Kan ku simpan dilubuk hatiku dan ku kunci rapat-rapat agar tak dapat kau ambil kembali.
Kamis, 10 Februari 2011
Mengapa Harus Mengeluh?
Banyak orang bilang hidup ini sudah sulit, kenapa harus dipersulit? Coba aku daftar satu-persatu: cari uang sulit, cari pekerjaan sulit, lulus kuliah sulit, ketemu jodoh juga sulit lho... :)
Sekarang kamu percaya kan??? Jujur aja deh kalau kamu juga terkadang mengalami hal yang sama seperti apa yang aku alami. Kenapa bersikap seolah itu tidak pernah kamu alami? Wah, hari geneee masih jaim? Kelaut aja deh lo!
Ckckckck, pastinya kamu sering menemukan kata-kata itu. Keramaian orang mengucapkannya untuk menutupi isi hati mereka. Padahal belum tentu ucapan tersebut bisa membantu --nyatanya.
Aku mulai melantur ya? Begini kalau menulis yang dimixed antara hati dan logika. Hatiku bilangnya A. Tetapi logikaku mengatakan B. Hufttt...
Nah, lho? Percaya kan sekarang, jika seringkali kita mengeluh untuk hal-hal yang tak penting seperti itu? Faktanya maksudku cuma membuat perasaanku menjadi lebih lega. Suatu bentuk dari ungkapan yang lebih menarik dan nyaman.
Menurutku sah-sah saja jika kamu mengeluh. Itu tergantung bagaimana keluhanmu terlontar keluar. Sebaiknya mengeluh ketika kamu sendirian agar sesuatu yang kamu keluhkan apabila berhubungan dengan orang lain, tidak akan membuatnya tersinggung dan marah. Akan lain ceritanya seandainya kamu memang ingin mengatakan langsung pada orangnya. Setuju?
Well, lega rasanya ketika tulisan ini mengalir dengan sendirinya. Sedikit berbagi kepada kamu itu tidak salah kan? Ups, jangan pikir aku sekarang mengeluh... :p
Sekarang kamu percaya kan??? Jujur aja deh kalau kamu juga terkadang mengalami hal yang sama seperti apa yang aku alami. Kenapa bersikap seolah itu tidak pernah kamu alami? Wah, hari geneee masih jaim? Kelaut aja deh lo!
Ckckckck, pastinya kamu sering menemukan kata-kata itu. Keramaian orang mengucapkannya untuk menutupi isi hati mereka. Padahal belum tentu ucapan tersebut bisa membantu --nyatanya.
Aku mulai melantur ya? Begini kalau menulis yang dimixed antara hati dan logika. Hatiku bilangnya A. Tetapi logikaku mengatakan B. Hufttt...
Nah, lho? Percaya kan sekarang, jika seringkali kita mengeluh untuk hal-hal yang tak penting seperti itu? Faktanya maksudku cuma membuat perasaanku menjadi lebih lega. Suatu bentuk dari ungkapan yang lebih menarik dan nyaman.
Menurutku sah-sah saja jika kamu mengeluh. Itu tergantung bagaimana keluhanmu terlontar keluar. Sebaiknya mengeluh ketika kamu sendirian agar sesuatu yang kamu keluhkan apabila berhubungan dengan orang lain, tidak akan membuatnya tersinggung dan marah. Akan lain ceritanya seandainya kamu memang ingin mengatakan langsung pada orangnya. Setuju?
Well, lega rasanya ketika tulisan ini mengalir dengan sendirinya. Sedikit berbagi kepada kamu itu tidak salah kan? Ups, jangan pikir aku sekarang mengeluh... :p
Rabu, 09 Februari 2011
Melangkah Pergi
Rasa ini semakin tak menentu. Tak kubayangkan sebelumnya jika pengakuan tersiratku itu akhirnya berbalik menyakitiku. Aku pikir setelah semuanya diluahkan akan melegakan untukku. Ternyata dugaanku melesat --nyaris salah.
Telah kutanyakan kepadamu, apa yang harus kulakukan? Namun dirimu memberikan jawaban yang tak pasti dan cenderung mengabaikannya --itu yang kurasakan. Seakan dirimu menikmati pengakuanku dan menerimanya. Akan tetapi berbentur pada kenyataan bahwa diantara kita terpisah jarak dan waktu yang begitu besar.
Inginnya aku menjembatani semua itu. Berpikir berulang-kali, menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijadikan pilihan. Tapi berakhir dengan satu kesimpulan jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita hanya tercipta untuk pernah saling merasakan dan berbagi cinta yang tidak tersalur.
Apakah dirimu merasakan kegundahan ini? Sesungguhnya aku tak hendak begini namun apa dayaku. Keadaan yang mengalir begitu saja tak dapat aku bendung. Maaf seandainya ini dapat mengubah arah persahabatan kita menjadi tidak lebih baik, aku akan pasrah. Tak akan aku memaksamu untuk tetap bersahabat denganku.
Aku akan melangkah pergi. Cintaku ini nyata tapi tak bertuan. Rasa ini akan kuabadikan selamanya. Kan ku kenang sebagai hadiah terbaik yang pernah kuperoleh. Kebaikan hatimu, kasih sayangmu, kesabaranmu, kemanjaanmu, kehangatanmu, merdu suaramu, dan kedekatan kita adalah hal terindah untukku...
Telah kutanyakan kepadamu, apa yang harus kulakukan? Namun dirimu memberikan jawaban yang tak pasti dan cenderung mengabaikannya --itu yang kurasakan. Seakan dirimu menikmati pengakuanku dan menerimanya. Akan tetapi berbentur pada kenyataan bahwa diantara kita terpisah jarak dan waktu yang begitu besar.
Inginnya aku menjembatani semua itu. Berpikir berulang-kali, menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijadikan pilihan. Tapi berakhir dengan satu kesimpulan jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita hanya tercipta untuk pernah saling merasakan dan berbagi cinta yang tidak tersalur.
Apakah dirimu merasakan kegundahan ini? Sesungguhnya aku tak hendak begini namun apa dayaku. Keadaan yang mengalir begitu saja tak dapat aku bendung. Maaf seandainya ini dapat mengubah arah persahabatan kita menjadi tidak lebih baik, aku akan pasrah. Tak akan aku memaksamu untuk tetap bersahabat denganku.
Aku akan melangkah pergi. Cintaku ini nyata tapi tak bertuan. Rasa ini akan kuabadikan selamanya. Kan ku kenang sebagai hadiah terbaik yang pernah kuperoleh. Kebaikan hatimu, kasih sayangmu, kesabaranmu, kemanjaanmu, kehangatanmu, merdu suaramu, dan kedekatan kita adalah hal terindah untukku...
Selasa, 08 Februari 2011
quand l'amour n'est pas la mienne
Musim telah berganti. Kini saatnya kemarau yang berarti cuaca akan sangat panas dan gerah. Suatu kondisi yang tidak mengenakkan untuk beraktivitas diluar ruangan. Oh iya, bahkan musim hujin juga begitu. Ternyata aku yang khilaf. Tuhan terlalu sempurna sehingga tak ada seorangpun yang menang dari-Nya.
Diawal musim panas ini duniaku seakan mendapat kesejukkan alami. Meskipun tersengat dan terpanggang matahari tak begitu kurasakan. Ini anugerah yang harus aku syukuri. Tidak semua orang mengalami hal yang sama. Bagiku ini adalah keberuntungsn ysng lebih dibandingkan dengan lainnya.
Je suis tombé amoureux. Inilah penyebab dari kebahagiaanku dimusim kemarau. Ibarat gurun pasir yang tiba-tiba kejatuhan hujan, cukup membuatnya terlihat basah dan tidak gersang. Bukankah kata-kataku tidak berlebihan.
Kebahagiaan ini adalah buah dari penantian panjangku, buah dari kesabaranku. Aku yakin ini takkan terlupakan.
Hanya disayangkan..., mungkin ini cuma sedetik saja. Ketika semuanya terungkap, kemarau tetaplah kemarau. Meski pendingin dinyalakan sepanjang hari, itu tak akan mampu menyegarkan tubuhmu dari keringat yang menetes.
Cinta hanya bisa diungkapkan. Sesak yang menghimpit rongga dada karenanya telah terlepas tanpa syarat. Akhirnya aku sadari ketika cinta bukan milikku. Cinta ini sebatas rasa yang takkan bergerak kemanapun. Kembali bertahan dan merendap menjadi lara dibalik kebahagiaan semu yang tercipta atas kata "cinta".
Diawal musim panas ini duniaku seakan mendapat kesejukkan alami. Meskipun tersengat dan terpanggang matahari tak begitu kurasakan. Ini anugerah yang harus aku syukuri. Tidak semua orang mengalami hal yang sama. Bagiku ini adalah keberuntungsn ysng lebih dibandingkan dengan lainnya.
Je suis tombé amoureux. Inilah penyebab dari kebahagiaanku dimusim kemarau. Ibarat gurun pasir yang tiba-tiba kejatuhan hujan, cukup membuatnya terlihat basah dan tidak gersang. Bukankah kata-kataku tidak berlebihan.
Kebahagiaan ini adalah buah dari penantian panjangku, buah dari kesabaranku. Aku yakin ini takkan terlupakan.
Hanya disayangkan..., mungkin ini cuma sedetik saja. Ketika semuanya terungkap, kemarau tetaplah kemarau. Meski pendingin dinyalakan sepanjang hari, itu tak akan mampu menyegarkan tubuhmu dari keringat yang menetes.
Cinta hanya bisa diungkapkan. Sesak yang menghimpit rongga dada karenanya telah terlepas tanpa syarat. Akhirnya aku sadari ketika cinta bukan milikku. Cinta ini sebatas rasa yang takkan bergerak kemanapun. Kembali bertahan dan merendap menjadi lara dibalik kebahagiaan semu yang tercipta atas kata "cinta".
Senin, 07 Februari 2011
Mi Manchi
Midnight and I still wake up. Sleepy but I can't sleep yet.
Then you are on my mind. I think about you more than yesterday. I call your name. I talk about you more and more. Why am I do this?
Mi manchi... Miss the way you are...
Then you are on my mind. I think about you more than yesterday. I call your name. I talk about you more and more. Why am I do this?
Mi manchi... Miss the way you are...
Sabtu, 05 Februari 2011
Doesn't Know How You Feel
Menunggu adalah sebuah pekerjaan yang membosankan untuk sebagian besar orang dimuka bumi ini. Yuk taruhan, coba kamu tanyakan pada setiap orang yang ditemui. Mereka akan menjawab dengan cepat seprti tak ingin membuang waktu hanya untuk menjawab pertanyaanmu itu. Aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa bisa?
Kamu akan menemukan jawabannya ketika mengalaminya sendiri. Bagaimana rasa bosan menyerangmu disaat menunggu yang akan menyebabkan kepalamu pusing tiba-tiba. Kamu pun kemudian akan mengoceh tidak jelas karena kesal. Mungkin juga kamu akan mulai berpikir untuk menumpahkan kekesalanmu itu pada apa saja yang kamu anggap mampu mengurangi kebosananmu menunggu.
Itulah yang kulakukan saat ini. Aku menunggunya. Meski hanya untuk sesaat aku ingin menunggunya. Tentu saja aku menyadari menunggu itu membosankan, tapi demi diriku, aku rela menunggu dengan bahagia.
Dalam hati dan pikiranku bertanya-tanya apakah dia tahu. Reaksi apa yang akan dia perlihatkan kepadaku. Sungguh bimbang terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebaliknya terkadang aku senang dan rindu dalam penantian ~menunggu.
Sedikit tersiksa atas ketidaktahuanku tentang perasaan dia terhadapku. Akan tetapi aku sangat takut menghadapi kenyataan jika karena penantian ini dapat merenggangkan keakraban ini. Oleh sebab itu aku tak akan mengganggunya, aku menghargainya.
Suatu saat nanti ini menjadi kenangan paling indah untukku. Tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi itu bukan masalah. Ku tetap menunggu ~pada waktunya.
Kamu akan menemukan jawabannya ketika mengalaminya sendiri. Bagaimana rasa bosan menyerangmu disaat menunggu yang akan menyebabkan kepalamu pusing tiba-tiba. Kamu pun kemudian akan mengoceh tidak jelas karena kesal. Mungkin juga kamu akan mulai berpikir untuk menumpahkan kekesalanmu itu pada apa saja yang kamu anggap mampu mengurangi kebosananmu menunggu.
Itulah yang kulakukan saat ini. Aku menunggunya. Meski hanya untuk sesaat aku ingin menunggunya. Tentu saja aku menyadari menunggu itu membosankan, tapi demi diriku, aku rela menunggu dengan bahagia.
Dalam hati dan pikiranku bertanya-tanya apakah dia tahu. Reaksi apa yang akan dia perlihatkan kepadaku. Sungguh bimbang terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebaliknya terkadang aku senang dan rindu dalam penantian ~menunggu.
Sedikit tersiksa atas ketidaktahuanku tentang perasaan dia terhadapku. Akan tetapi aku sangat takut menghadapi kenyataan jika karena penantian ini dapat merenggangkan keakraban ini. Oleh sebab itu aku tak akan mengganggunya, aku menghargainya.
Suatu saat nanti ini menjadi kenangan paling indah untukku. Tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi itu bukan masalah. Ku tetap menunggu ~pada waktunya.
Rabu, 02 Februari 2011
Aku yang Memikirkanmu
Ini mungkin menjadi kesalahan dalam hidupku ketika aku memutuskan untuk menuangkannya kedalam tulisan ini. Akan tetapi hanya dengan ini aku mampu memaafkan diriku sendiri. Maaf padamu jika ini dapat melukai harga dirimu atas kelancanganku.
Aku bohong saat bilang akting ini membuatmu grogi dan tak bisa berkata-kata dengan jelas. Sesungguhnya akulah yang sangat gugup dan tak kuat untuk menanggung rasa terluka serta kehilangan akan dirimu pada saat bersamaan. Ingin sekali ku ralat kata-kata itu agar dirimu mengerti dan memahami maksud hatiku. Akh, mahal sekalikah harga sebuah kejujuran?
Nyaliku tak cukup berani untuk menyatakannya secara terus terang kepadamu. Cara itu terpikirkan begitu saja--spontanitas yang akhirnya membuat diriku menyesalinya. Menyesal karena aku melukai hati dan perasaanmu. Sedih disaat aku memikirkan ulang kembali peristiwa itu. Mengapa aku harus seceroboh itu?
Mungkin saja dirimu telah mengetahui apa maksud dari semua kata-kata yang disembunyika disebalik aktingku. Mungkin juga dirimu sungguh tak menyangka kenekatan yang kulakukan pada waktu itu. Mungkin diantara kita memang telah terjalin seutas rasa yang memberi kekuatan untuk tetap bertahan sebatas teman selama lebih kurang dua tahun terakhir. Kemungkinan akan selalu ada jika terus-menerus kita pikirkan bersama.
Harus kuakui bahwa ada kalanya aku memikirkanmu lebih. Berpikir bahwa kita tak sekedar teman atau sahabat. Kita bisa lebih dari itu. Bisakah?
Sebaiknya memang dirimu tak mengetahui kenyataan ini. Ada bebarapa hal dalam hidup ini yang lebih baik selamanya menjadi rahasia. Tak seorang pun diizinkan untuk mengetahuinya. Akan fatal akibatnya jika rahasia itu menjadi konsumsi publik.
Rindu ketika teringat akan dirimu akan kuobati dengan menghubungimu sesegera mungkin. Walaupun aku menyadari ada jarak yang begitu jauh tapi itu tak menghalangiku. Aku berandai-andai jika saja dirimu ada disini didekatku, didepan mataku, disisiku, hangat seperti inikah hubungan kita?
Jadi, katakan padaku apa yang harus kulakukan? Apa yang akan terjadi dalam hubungan kita kedepan? Dapatkah kita tetap berhubungan dengan baik setelah peristiwa ini?
Sungguh aku tak mengerti harus bagaimana.
Aku bohong saat bilang akting ini membuatmu grogi dan tak bisa berkata-kata dengan jelas. Sesungguhnya akulah yang sangat gugup dan tak kuat untuk menanggung rasa terluka serta kehilangan akan dirimu pada saat bersamaan. Ingin sekali ku ralat kata-kata itu agar dirimu mengerti dan memahami maksud hatiku. Akh, mahal sekalikah harga sebuah kejujuran?
Nyaliku tak cukup berani untuk menyatakannya secara terus terang kepadamu. Cara itu terpikirkan begitu saja--spontanitas yang akhirnya membuat diriku menyesalinya. Menyesal karena aku melukai hati dan perasaanmu. Sedih disaat aku memikirkan ulang kembali peristiwa itu. Mengapa aku harus seceroboh itu?
Mungkin saja dirimu telah mengetahui apa maksud dari semua kata-kata yang disembunyika disebalik aktingku. Mungkin juga dirimu sungguh tak menyangka kenekatan yang kulakukan pada waktu itu. Mungkin diantara kita memang telah terjalin seutas rasa yang memberi kekuatan untuk tetap bertahan sebatas teman selama lebih kurang dua tahun terakhir. Kemungkinan akan selalu ada jika terus-menerus kita pikirkan bersama.
Harus kuakui bahwa ada kalanya aku memikirkanmu lebih. Berpikir bahwa kita tak sekedar teman atau sahabat. Kita bisa lebih dari itu. Bisakah?
Sebaiknya memang dirimu tak mengetahui kenyataan ini. Ada bebarapa hal dalam hidup ini yang lebih baik selamanya menjadi rahasia. Tak seorang pun diizinkan untuk mengetahuinya. Akan fatal akibatnya jika rahasia itu menjadi konsumsi publik.
Rindu ketika teringat akan dirimu akan kuobati dengan menghubungimu sesegera mungkin. Walaupun aku menyadari ada jarak yang begitu jauh tapi itu tak menghalangiku. Aku berandai-andai jika saja dirimu ada disini didekatku, didepan mataku, disisiku, hangat seperti inikah hubungan kita?
Jadi, katakan padaku apa yang harus kulakukan? Apa yang akan terjadi dalam hubungan kita kedepan? Dapatkah kita tetap berhubungan dengan baik setelah peristiwa ini?
Sungguh aku tak mengerti harus bagaimana.
Senin, 17 Januari 2011
Dilema Gadis @23
Hari ini tepat ulang tahunku yang ke 23. Aku mendapatkan banyak sekali ucapan selamat ulang tahun dari keluarga dan taman-temanku. Bahagia sekali sampai tak terkatakan.
Tidak terasa waktu berlalu cukup cepat. Meninggalkan peristiwa yang telah berlalu. menyongsong hari esok yang penuh misteri kehidupan. Ini sedikit flashback tentang masa laluku lebih kurang 23 tahun silam. Sekarang saatnya bicara tentang masa depan yang aku inginkan, cita-citaku.
Mimpi tak selamanya akan menjadi kenyataan. Ada beberapa hal yang perlu dikorbankan. Ada juga hal yang tidak diharapkan malah muncul secara tak terduga.Aku paham kalau bakal seperti ini, tapi sepertinya aku belum cukup siap menghadapinya.
Mari bicara tentang kuliahku yang macet tersendat-sendat layaknya jalanan yang kelebihan pemakai maupun kapasitasnya. Dibilang BBm kosong eh ternyata kepenuhan hmmm. Selanjutnya karirku juga bisa dibilang mandek. Stay at home still happy. Lho siapa bilang aku nganggur. Walaupun dirumah aku tetap kerja, beres-beres rumah. Kemudian bicara tentang cinta. Akh,topik ini tetap favoritku buat dibahas sepanjang mungkin sedetail-detailnya, hehe. Yukssss...
I'm single happy. It is true. You have to trust me, ok.
Inilah aku sekarang. Sendiri melewati hari-hari yang berlalu ditemani sahabat-sahabatku dan hobiku -kpop. Tidak Dipungkiri pernah terbersit rasa ingin memiliki pasangan tetapi aku urungkan kembali. Saat ini lebih nyaman begini, enjoy menikmati hidup.
Seringkali ketika jalan-jalan melintasi orang yang pacaran atau bersama pasangannya membuatku tak sadar mengucapkan "ugh". Tidak baik untukku bersikap seperti itu tapi terjadi begitu saja. Manusia memang takkan luput dari kekurangan. Wajar kan? Dilema juga ketika banyak teman yang seumuran denganku telah menikah dan menimang anak.
Akhirnya aku berserah diri pada Ilahi agar ini segera teratasi. Dikejar deadline itu sungguh tidak enak. Aku akan menikmati semua ini karena ku yakin suatu saat nanti akan datang hari paling bahagia didalam hidupku.
Tidak terasa waktu berlalu cukup cepat. Meninggalkan peristiwa yang telah berlalu. menyongsong hari esok yang penuh misteri kehidupan. Ini sedikit flashback tentang masa laluku lebih kurang 23 tahun silam. Sekarang saatnya bicara tentang masa depan yang aku inginkan, cita-citaku.
Mimpi tak selamanya akan menjadi kenyataan. Ada beberapa hal yang perlu dikorbankan. Ada juga hal yang tidak diharapkan malah muncul secara tak terduga.Aku paham kalau bakal seperti ini, tapi sepertinya aku belum cukup siap menghadapinya.
Mari bicara tentang kuliahku yang macet tersendat-sendat layaknya jalanan yang kelebihan pemakai maupun kapasitasnya. Dibilang BBm kosong eh ternyata kepenuhan hmmm. Selanjutnya karirku juga bisa dibilang mandek. Stay at home still happy. Lho siapa bilang aku nganggur. Walaupun dirumah aku tetap kerja, beres-beres rumah. Kemudian bicara tentang cinta. Akh,topik ini tetap favoritku buat dibahas sepanjang mungkin sedetail-detailnya, hehe. Yukssss...
I'm single happy. It is true. You have to trust me, ok.
Inilah aku sekarang. Sendiri melewati hari-hari yang berlalu ditemani sahabat-sahabatku dan hobiku -kpop. Tidak Dipungkiri pernah terbersit rasa ingin memiliki pasangan tetapi aku urungkan kembali. Saat ini lebih nyaman begini, enjoy menikmati hidup.
Seringkali ketika jalan-jalan melintasi orang yang pacaran atau bersama pasangannya membuatku tak sadar mengucapkan "ugh". Tidak baik untukku bersikap seperti itu tapi terjadi begitu saja. Manusia memang takkan luput dari kekurangan. Wajar kan? Dilema juga ketika banyak teman yang seumuran denganku telah menikah dan menimang anak.
Akhirnya aku berserah diri pada Ilahi agar ini segera teratasi. Dikejar deadline itu sungguh tidak enak. Aku akan menikmati semua ini karena ku yakin suatu saat nanti akan datang hari paling bahagia didalam hidupku.
Rabu, 12 Januari 2011
Mari Kita Heran
Heran? Aku juga heran. Kenapa kamu mesti heran? Tidak perlu heran. Ini sesuatu yang lumrah terjadi.
Sewajarnya jika kita menemukan sesuatu diluar dari kebiasaan akan merasa heran. Keheranan yang pasti semua orang pernah mengalaminya. Contohnya saja cerita tentang angsa si buruk rupa. Lho iya kan? Kok bisa induk angsa yang putih memiliki seekor anak yang berwarna hitam? Setelah tahu cerita lengkapnya ternyata angsa hitam itu adalah telur titipan. Dengan kata lain, ada suatu sebab atau alasan yang membuat kita terheran-heran.
Menurutku, heran bukan suatu kelainan fatal melainkan sugesti dari perasaan yang tidak seperti biasanya. Alamiah sekali kejadiannya dan seringkali tanpa kita sadari. Jadi, jangan terheran-heran kalau tidak ada yang mengherankan daripada orang lain akan keheranan dengan tingkahmu.
*terinspirasi dari kalimat 'mari kita heran' disalah satu program acara tv swasta.
Sewajarnya jika kita menemukan sesuatu diluar dari kebiasaan akan merasa heran. Keheranan yang pasti semua orang pernah mengalaminya. Contohnya saja cerita tentang angsa si buruk rupa. Lho iya kan? Kok bisa induk angsa yang putih memiliki seekor anak yang berwarna hitam? Setelah tahu cerita lengkapnya ternyata angsa hitam itu adalah telur titipan. Dengan kata lain, ada suatu sebab atau alasan yang membuat kita terheran-heran.
Menurutku, heran bukan suatu kelainan fatal melainkan sugesti dari perasaan yang tidak seperti biasanya. Alamiah sekali kejadiannya dan seringkali tanpa kita sadari. Jadi, jangan terheran-heran kalau tidak ada yang mengherankan daripada orang lain akan keheranan dengan tingkahmu.
*terinspirasi dari kalimat 'mari kita heran' disalah satu program acara tv swasta.
Senin, 10 Januari 2011
I Do for You
If you ask, "do you love me?" Then i say, "yes, i do."
Oh indahnya dunia serasa hanya milik berdua. Orang lain cuma menyewa sejenak -numpang- yang kemudian perlahan-lahan berlalu. Ah, khayalan ini melambungkan nuraniku ke langit terakhir.
Ketika kau tanyakan padaku tentang cinta, hatiku berbunga-bunga. Aku tahu bahwa kau mencintaiku bahkan sebelum sejujurnya terucap olehmu. Setidaknya aku bukan peramal barangkali sedikit peka saat hatiku mulai terusik akan kehadiranmu.
Kau tanya apakah aku mau menghabiskan seluruh hidup ini bersamamu. Tentu saja aku bilang YA, mau semaunya. Kau tanya apakah aku sanggup melewati sisa hidup ini bersamamu. YA, aku akan menjalaninya sepenuh hati. Kau juga bertanya apakah aku tak akan menyesali telah mengiyakan semua pertanyaanmu. Sekali lagi aku tegaskan YA adalah jawabanku untukmu.
Janganlah kau ragukan kata 'ya' yang kuberikan padamu. Sesungguhnya itulah cintaku untukmu. Cinta, pengertian, dan penghormatan adalah diriku.
Akan kukatakan ya selalu kepadamu.
Oh indahnya dunia serasa hanya milik berdua. Orang lain cuma menyewa sejenak -numpang- yang kemudian perlahan-lahan berlalu. Ah, khayalan ini melambungkan nuraniku ke langit terakhir.
Ketika kau tanyakan padaku tentang cinta, hatiku berbunga-bunga. Aku tahu bahwa kau mencintaiku bahkan sebelum sejujurnya terucap olehmu. Setidaknya aku bukan peramal barangkali sedikit peka saat hatiku mulai terusik akan kehadiranmu.
Kau tanya apakah aku mau menghabiskan seluruh hidup ini bersamamu. Tentu saja aku bilang YA, mau semaunya. Kau tanya apakah aku sanggup melewati sisa hidup ini bersamamu. YA, aku akan menjalaninya sepenuh hati. Kau juga bertanya apakah aku tak akan menyesali telah mengiyakan semua pertanyaanmu. Sekali lagi aku tegaskan YA adalah jawabanku untukmu.
Janganlah kau ragukan kata 'ya' yang kuberikan padamu. Sesungguhnya itulah cintaku untukmu. Cinta, pengertian, dan penghormatan adalah diriku.
Akan kukatakan ya selalu kepadamu.
Minggu, 09 Januari 2011
Aku tlah terbiasa
Kata syahrini 'aku tak biasa' hidup tanpa seseorang didekatnya. Lirik demi liriknya hanya untuk orang yang sudah memiliki pasangan. Hmmm, membuatmu irikah?
Akan tetapi bertolak belakang dengan diriku. Seolah terbiasa sendiri tanpa didampingi seseorang. Seringkali tersakiti bahkan pernah menyakiti membuatku tak lagi cukup peka merasakan cinta. Untuk merangkai kata saja telah meletihkan otakku. Begitu parahnyakah?
Sendiri yang terkadang aku senangi dan seringpula aku benci. Namun karena berulang kali sendiri dan sendiri akhirnya kini terbiasa. Terkadang menghasilkan pikiran jahat dikepalaku tentang orang-orang yang berpasangan. Haha, dasar pikiran kotor. Untungnya hanya sebatas pikiran saja.
Sekarang aku berpikir bagaimana agar kebiasaan ini tidak menyebabkan diriku imun. Bahaya jika itu sampai terjadi. Bukan hanya aku yang merana. Bisa-bisa orang terdekatku juga ikut sengsara.
Yah, aku telah terbiasa sendiri. Cukup waktu untuk berpikir. Meski waktu bukanlah alat ukur yang tepat untuk kedewasaanku. Hubungannya apa?
Maksudku tentu saja agar kebiasaan ini terhenti secara alamiah. Itu pertanda aku tidak imun dan bahkan sangat peka untuk tidak larut :)
Akan tetapi bertolak belakang dengan diriku. Seolah terbiasa sendiri tanpa didampingi seseorang. Seringkali tersakiti bahkan pernah menyakiti membuatku tak lagi cukup peka merasakan cinta. Untuk merangkai kata saja telah meletihkan otakku. Begitu parahnyakah?
Sendiri yang terkadang aku senangi dan seringpula aku benci. Namun karena berulang kali sendiri dan sendiri akhirnya kini terbiasa. Terkadang menghasilkan pikiran jahat dikepalaku tentang orang-orang yang berpasangan. Haha, dasar pikiran kotor. Untungnya hanya sebatas pikiran saja.
Sekarang aku berpikir bagaimana agar kebiasaan ini tidak menyebabkan diriku imun. Bahaya jika itu sampai terjadi. Bukan hanya aku yang merana. Bisa-bisa orang terdekatku juga ikut sengsara.
Yah, aku telah terbiasa sendiri. Cukup waktu untuk berpikir. Meski waktu bukanlah alat ukur yang tepat untuk kedewasaanku. Hubungannya apa?
Maksudku tentu saja agar kebiasaan ini terhenti secara alamiah. Itu pertanda aku tidak imun dan bahkan sangat peka untuk tidak larut :)
It's new year -again
Kapan terakhir kalinya aku menulis disini? Oh, sudah beberapa bulan yang lalu. Akhir tahun lalu. Sekarang tahun baru lagi.
Rasanya tidak ada yang berbeda. Aku masih seperti ini. Tetap sendiri. Tetap begini.
Akh! Aku hanya ingin meluapkan rasa yang terpendam didada. Sesak. Entah apa yang menyebabkannya aku tak pasti. Kesendiriankukah? Kejenuhanku? Kehampaanku? Kuliahku? Karirku? Hidupku? Cintaku?
Haha, sebaiknya aku tertawa. Lucu saja ketika nanti kubaca lagi tulisan ini. Isinya kan tidak jelas. Dari a-z atau z-a, memutarbalikkan tanpa tahu fakta maupun ironi.
Haha, harus ketawa. Benar-benar harus tertawa. Yah, membuatku sedikit lega...
Rasanya tidak ada yang berbeda. Aku masih seperti ini. Tetap sendiri. Tetap begini.
Akh! Aku hanya ingin meluapkan rasa yang terpendam didada. Sesak. Entah apa yang menyebabkannya aku tak pasti. Kesendiriankukah? Kejenuhanku? Kehampaanku? Kuliahku? Karirku? Hidupku? Cintaku?
Haha, sebaiknya aku tertawa. Lucu saja ketika nanti kubaca lagi tulisan ini. Isinya kan tidak jelas. Dari a-z atau z-a, memutarbalikkan tanpa tahu fakta maupun ironi.
Haha, harus ketawa. Benar-benar harus tertawa. Yah, membuatku sedikit lega...
Langganan:
Komentar (Atom)