Halaman

Selasa, 09 Maret 2010

dia memilih untuk pergi...

terdengar pintu diketuk perlahan dari luar. tok tok..., ah aku mengenali ketukan itu. cuma ada satu orang yang memiliki ketukan seperti itu. siapa lagi kalau bukan teman baikku, si cowok lemot yang baik hati.

dia datang untuk membayar hutang pulsa padaku. hehe, gini-gini aku mulai belajar bisnis kecil-kecilan lho. namanya juga belajar ya tentunya masih sendat-sendat ditengah jalan gitu. jumlah yang tak seberapa dengan kedatangannya yang langsung kerumahku. ternyata dia datang membawa berita, kayak pak pos itu lho.

"ada pesan dari someone," ujarnya.
"bilang aja lah namanya," sahutku.
"nih, baca aja sendiri," lanjutnya sembari menyodorkan handphonenya kepadaku.
"salam ya buat Afro. aku lagi dalam perjalanan ke kalteng" -isi sms-.


oh, rupanya itu. aku kirain pesan apaan juga. hmmm, tuh anak ternyata nekat juga ubtuk merantau segitu jauhnya. aku maklum sich, tak mudah untuk melupakan orang yang pergi meninggalkan kita begitu aja. butuh pengorbanan yang cukup besar dari diri sendiri agar bisa bangkit kembali.

teman, aku doakan semoga dirimu sukses dan berhasil menata hidupmu kembali. semoga juga dirimu kelak dapat menemukan hati yang tulus menyayangimu lagi. satu hal lagi, jangan lupakan aku yang pernah menemanimu melewati hari terpahit itu hingga si jago berkokok memanggil matahari demi menyinari dunia ini.

Kamis, 04 Maret 2010

Ku Benci Dia

aku sangat membenci dia. sungguh tak ada lagi kenangan yang ingin kuingat tentang dia. dia hanya selalu menyakitiku bahkan setelah perpisahan itu. apa yang dipikirkannya sehingga tega berbuat seperti ini kepadaku.

baru saja beberapa hari yang lalu dia memaksaku untuk berbicara kasar. apa dia tak mengerti bahwa aku tak bisa lagi bicara padanya. jangankan untuk bicara, hanya mendengar namanya disebut orang saja aku sudah alergi. begitu dalamkah rasa benci yang tertanam dihatiku akibat ulahnya sendiri.

tak seorangpun yang tahu betapa sakitnya aku mengarungi percintaan itu bersamanya. takkan ada yang tahu. tak ingin seorangpun tahu. cukup hanya antara aku dan dia. aku ingin menutup lembar lama itu (sekali lagi)...

setiap tindakan yang mengakibatkan luka dihati orang lain akan mendapatkan balasannya. ini saatnya dia tak boleh lagi melukai perasaanku. aku muak dengan semua ucapannya. janji yang dia dustai sendiri.

ah sudahlah.... sebanyak apapun yang tertuang dalam tulisanku takkan mampu mewakili seluruh rasa sakit dan luka hati ini. biarlah kuikhlaskan saja. dia pun akan merasakan sendiri akibatnya meski tidak sekarang ini mungkin saja akan datang.

tak ingin memelihara rasa dendam dan benci lebih lama lagi. ku harus berusaha bangkit dari keterpurukan ini. setahun telah berlalu, masih belum cukupkah untukku tak lagi memikirkannya. 'just wanna say good bye for him....'