Selalu butuh waktu untuk menyadari keadaan yang sesungguhnya terjadi. Tak terasa kesepian mulai melanda hari-hariku. Kemana keceriaan yang dulu menemaniku? Ibarat semut yang kehilangan koloninya, tertatih mencari arah yang harus dituju. Kebingungan meskipun dihadapannya ada jalan untuk dilalui.
Aku bukan seekor semut. Sedikitpun tak terbayangkan olehku jika harus berjalan seorang diri, berkelana tanpa tahu harus kemana. Oh Tuhan, jangan tinggalkan diriku sendiri seperti ini. Berikan aku petunjuk tentang jalan yang boleh aku lalui.
Inilah yang terjadi ketika kau pergi meninggalkanku. Separuh dari jiwaku telah pergi bersama kepergianmu. Sebentuk wajah yang terbiasa kupandangi tanpa rasa jemu ikut berlalu. Begitu berpengaruhnya kepergianmu dalam hidupku, begitu menyakitkan. Semua kata-kata cinta untukmu menghilang tiba-tiba meskipun hatiku masih ingin mangatakannya padamu. Tapi untuk apa???
Tak pernah kurasakan yang sesakit ini ketika ditinggalkan. Benar, ini bukan yang pertama kalinya tapi mengapa ini yang justru sangat menyakitiku? Seharusnya aku baik-baik saja.
Apa aku harus bilang, aku baik-baik saja? Rasa rindu ini membuatku tidak baik-baik saja. Rasa sakit ini membuatku nyeri dihati. Rasa cinta ini membuatku kecewa setengah mati. Setiap yang kulakukan mengingatkanku akan dirimu.
Baiklah, aku akan merelakan kepergianmu. Mengikhlaskan kehilangan dirimu. Melapangkan langkah-langkahmu menuju tempat terindah. Aku tahu bahwa kita tercipta berpasangan. Telah kuberikan jiwa ragaku padamu. Sisakan sedikit untukku yang tertinggal disini agar aku bisa bangkit dari kesedihan ini. Selamat jalan sayang... I love You.
Ini cerita tentang aku dan hidupku. Semoga hidup ini tetap indah meski ujian selalu menyapa ^^
Minggu, 13 Februari 2011
Jumat, 11 Februari 2011
Rindumu Bukan Milikku
Deg... Deg... Debar yang beberapa waktu terakhir ini menguasai hatiku semakin melemah...
Hati manusia selalu dapat berubah secara drastis, kapan pun dia mau. Beberapa saat yang lalu kita bisa merasakan kerinduan yang luar biasa. Namun beberapa saat kemudian kerinduan itu bisa menguap begitu saja. Setiap orang pernah mengalaminya. Tapi saat ini aku hanya akan bercerita tentang diriku sendiri. Tentang kerinduan ini terhadap dirimu. Keinginan untuk melihat wajahmu, mendengar suaramu, bahkan hanya sekedar mengintip aktivitasmu didunia maya.
Kamu --meskipun keberadaanmu semu-- mamapu menggugah perasaanku. Menyentuhku dititik paling dalam akan cinta. Begitu kuatkah kamu mengusik kehidupan asmaraku?
Namun sayang, kerinduan ini kurasakan seorang diri. Aku lelah untuk merasakan rindu yang tak berujung. Mentolerir sesuatu yang belum memiliki kepastian adalah hal yang ingin kuhindari. Cukup sudah bertepuk sebelah tangan --tak akan pernah berbunyi.
Pada kenyataannya akhir-akhir ini kamu tidak pernah memperlihatkan hal yang sama. Aku rindu ketika kamu bilang "aku rindu kamu". Kalimat itu terucap pada saat bahwa kamu tahu aku juga sangant merindukanmu. Haruskah ini menjadi sulit untuk dimengerti?
Untuk siapakah rindumu kini? Rindumu bukan milikku --hatiku bicara. Kamu tak mudah untuk dipahami, terlalu jauh untuk diperhatikan sedetil mungkin. Begitu besar tanda tanya yang kamu tinggalkan untukku.
Jika memang rindumu diberikan pada seseorang disana, sisakan sedikit demi perasaanku yang terluka. Kan ku simpan dilubuk hatiku dan ku kunci rapat-rapat agar tak dapat kau ambil kembali.
Hati manusia selalu dapat berubah secara drastis, kapan pun dia mau. Beberapa saat yang lalu kita bisa merasakan kerinduan yang luar biasa. Namun beberapa saat kemudian kerinduan itu bisa menguap begitu saja. Setiap orang pernah mengalaminya. Tapi saat ini aku hanya akan bercerita tentang diriku sendiri. Tentang kerinduan ini terhadap dirimu. Keinginan untuk melihat wajahmu, mendengar suaramu, bahkan hanya sekedar mengintip aktivitasmu didunia maya.
Kamu --meskipun keberadaanmu semu-- mamapu menggugah perasaanku. Menyentuhku dititik paling dalam akan cinta. Begitu kuatkah kamu mengusik kehidupan asmaraku?
Namun sayang, kerinduan ini kurasakan seorang diri. Aku lelah untuk merasakan rindu yang tak berujung. Mentolerir sesuatu yang belum memiliki kepastian adalah hal yang ingin kuhindari. Cukup sudah bertepuk sebelah tangan --tak akan pernah berbunyi.
Pada kenyataannya akhir-akhir ini kamu tidak pernah memperlihatkan hal yang sama. Aku rindu ketika kamu bilang "aku rindu kamu". Kalimat itu terucap pada saat bahwa kamu tahu aku juga sangant merindukanmu. Haruskah ini menjadi sulit untuk dimengerti?
Untuk siapakah rindumu kini? Rindumu bukan milikku --hatiku bicara. Kamu tak mudah untuk dipahami, terlalu jauh untuk diperhatikan sedetil mungkin. Begitu besar tanda tanya yang kamu tinggalkan untukku.
Jika memang rindumu diberikan pada seseorang disana, sisakan sedikit demi perasaanku yang terluka. Kan ku simpan dilubuk hatiku dan ku kunci rapat-rapat agar tak dapat kau ambil kembali.
Kamis, 10 Februari 2011
Mengapa Harus Mengeluh?
Banyak orang bilang hidup ini sudah sulit, kenapa harus dipersulit? Coba aku daftar satu-persatu: cari uang sulit, cari pekerjaan sulit, lulus kuliah sulit, ketemu jodoh juga sulit lho... :)
Sekarang kamu percaya kan??? Jujur aja deh kalau kamu juga terkadang mengalami hal yang sama seperti apa yang aku alami. Kenapa bersikap seolah itu tidak pernah kamu alami? Wah, hari geneee masih jaim? Kelaut aja deh lo!
Ckckckck, pastinya kamu sering menemukan kata-kata itu. Keramaian orang mengucapkannya untuk menutupi isi hati mereka. Padahal belum tentu ucapan tersebut bisa membantu --nyatanya.
Aku mulai melantur ya? Begini kalau menulis yang dimixed antara hati dan logika. Hatiku bilangnya A. Tetapi logikaku mengatakan B. Hufttt...
Nah, lho? Percaya kan sekarang, jika seringkali kita mengeluh untuk hal-hal yang tak penting seperti itu? Faktanya maksudku cuma membuat perasaanku menjadi lebih lega. Suatu bentuk dari ungkapan yang lebih menarik dan nyaman.
Menurutku sah-sah saja jika kamu mengeluh. Itu tergantung bagaimana keluhanmu terlontar keluar. Sebaiknya mengeluh ketika kamu sendirian agar sesuatu yang kamu keluhkan apabila berhubungan dengan orang lain, tidak akan membuatnya tersinggung dan marah. Akan lain ceritanya seandainya kamu memang ingin mengatakan langsung pada orangnya. Setuju?
Well, lega rasanya ketika tulisan ini mengalir dengan sendirinya. Sedikit berbagi kepada kamu itu tidak salah kan? Ups, jangan pikir aku sekarang mengeluh... :p
Sekarang kamu percaya kan??? Jujur aja deh kalau kamu juga terkadang mengalami hal yang sama seperti apa yang aku alami. Kenapa bersikap seolah itu tidak pernah kamu alami? Wah, hari geneee masih jaim? Kelaut aja deh lo!
Ckckckck, pastinya kamu sering menemukan kata-kata itu. Keramaian orang mengucapkannya untuk menutupi isi hati mereka. Padahal belum tentu ucapan tersebut bisa membantu --nyatanya.
Aku mulai melantur ya? Begini kalau menulis yang dimixed antara hati dan logika. Hatiku bilangnya A. Tetapi logikaku mengatakan B. Hufttt...
Nah, lho? Percaya kan sekarang, jika seringkali kita mengeluh untuk hal-hal yang tak penting seperti itu? Faktanya maksudku cuma membuat perasaanku menjadi lebih lega. Suatu bentuk dari ungkapan yang lebih menarik dan nyaman.
Menurutku sah-sah saja jika kamu mengeluh. Itu tergantung bagaimana keluhanmu terlontar keluar. Sebaiknya mengeluh ketika kamu sendirian agar sesuatu yang kamu keluhkan apabila berhubungan dengan orang lain, tidak akan membuatnya tersinggung dan marah. Akan lain ceritanya seandainya kamu memang ingin mengatakan langsung pada orangnya. Setuju?
Well, lega rasanya ketika tulisan ini mengalir dengan sendirinya. Sedikit berbagi kepada kamu itu tidak salah kan? Ups, jangan pikir aku sekarang mengeluh... :p
Rabu, 09 Februari 2011
Melangkah Pergi
Rasa ini semakin tak menentu. Tak kubayangkan sebelumnya jika pengakuan tersiratku itu akhirnya berbalik menyakitiku. Aku pikir setelah semuanya diluahkan akan melegakan untukku. Ternyata dugaanku melesat --nyaris salah.
Telah kutanyakan kepadamu, apa yang harus kulakukan? Namun dirimu memberikan jawaban yang tak pasti dan cenderung mengabaikannya --itu yang kurasakan. Seakan dirimu menikmati pengakuanku dan menerimanya. Akan tetapi berbentur pada kenyataan bahwa diantara kita terpisah jarak dan waktu yang begitu besar.
Inginnya aku menjembatani semua itu. Berpikir berulang-kali, menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijadikan pilihan. Tapi berakhir dengan satu kesimpulan jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita hanya tercipta untuk pernah saling merasakan dan berbagi cinta yang tidak tersalur.
Apakah dirimu merasakan kegundahan ini? Sesungguhnya aku tak hendak begini namun apa dayaku. Keadaan yang mengalir begitu saja tak dapat aku bendung. Maaf seandainya ini dapat mengubah arah persahabatan kita menjadi tidak lebih baik, aku akan pasrah. Tak akan aku memaksamu untuk tetap bersahabat denganku.
Aku akan melangkah pergi. Cintaku ini nyata tapi tak bertuan. Rasa ini akan kuabadikan selamanya. Kan ku kenang sebagai hadiah terbaik yang pernah kuperoleh. Kebaikan hatimu, kasih sayangmu, kesabaranmu, kemanjaanmu, kehangatanmu, merdu suaramu, dan kedekatan kita adalah hal terindah untukku...
Telah kutanyakan kepadamu, apa yang harus kulakukan? Namun dirimu memberikan jawaban yang tak pasti dan cenderung mengabaikannya --itu yang kurasakan. Seakan dirimu menikmati pengakuanku dan menerimanya. Akan tetapi berbentur pada kenyataan bahwa diantara kita terpisah jarak dan waktu yang begitu besar.
Inginnya aku menjembatani semua itu. Berpikir berulang-kali, menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijadikan pilihan. Tapi berakhir dengan satu kesimpulan jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita hanya tercipta untuk pernah saling merasakan dan berbagi cinta yang tidak tersalur.
Apakah dirimu merasakan kegundahan ini? Sesungguhnya aku tak hendak begini namun apa dayaku. Keadaan yang mengalir begitu saja tak dapat aku bendung. Maaf seandainya ini dapat mengubah arah persahabatan kita menjadi tidak lebih baik, aku akan pasrah. Tak akan aku memaksamu untuk tetap bersahabat denganku.
Aku akan melangkah pergi. Cintaku ini nyata tapi tak bertuan. Rasa ini akan kuabadikan selamanya. Kan ku kenang sebagai hadiah terbaik yang pernah kuperoleh. Kebaikan hatimu, kasih sayangmu, kesabaranmu, kemanjaanmu, kehangatanmu, merdu suaramu, dan kedekatan kita adalah hal terindah untukku...
Selasa, 08 Februari 2011
quand l'amour n'est pas la mienne
Musim telah berganti. Kini saatnya kemarau yang berarti cuaca akan sangat panas dan gerah. Suatu kondisi yang tidak mengenakkan untuk beraktivitas diluar ruangan. Oh iya, bahkan musim hujin juga begitu. Ternyata aku yang khilaf. Tuhan terlalu sempurna sehingga tak ada seorangpun yang menang dari-Nya.
Diawal musim panas ini duniaku seakan mendapat kesejukkan alami. Meskipun tersengat dan terpanggang matahari tak begitu kurasakan. Ini anugerah yang harus aku syukuri. Tidak semua orang mengalami hal yang sama. Bagiku ini adalah keberuntungsn ysng lebih dibandingkan dengan lainnya.
Je suis tombé amoureux. Inilah penyebab dari kebahagiaanku dimusim kemarau. Ibarat gurun pasir yang tiba-tiba kejatuhan hujan, cukup membuatnya terlihat basah dan tidak gersang. Bukankah kata-kataku tidak berlebihan.
Kebahagiaan ini adalah buah dari penantian panjangku, buah dari kesabaranku. Aku yakin ini takkan terlupakan.
Hanya disayangkan..., mungkin ini cuma sedetik saja. Ketika semuanya terungkap, kemarau tetaplah kemarau. Meski pendingin dinyalakan sepanjang hari, itu tak akan mampu menyegarkan tubuhmu dari keringat yang menetes.
Cinta hanya bisa diungkapkan. Sesak yang menghimpit rongga dada karenanya telah terlepas tanpa syarat. Akhirnya aku sadari ketika cinta bukan milikku. Cinta ini sebatas rasa yang takkan bergerak kemanapun. Kembali bertahan dan merendap menjadi lara dibalik kebahagiaan semu yang tercipta atas kata "cinta".
Diawal musim panas ini duniaku seakan mendapat kesejukkan alami. Meskipun tersengat dan terpanggang matahari tak begitu kurasakan. Ini anugerah yang harus aku syukuri. Tidak semua orang mengalami hal yang sama. Bagiku ini adalah keberuntungsn ysng lebih dibandingkan dengan lainnya.
Je suis tombé amoureux. Inilah penyebab dari kebahagiaanku dimusim kemarau. Ibarat gurun pasir yang tiba-tiba kejatuhan hujan, cukup membuatnya terlihat basah dan tidak gersang. Bukankah kata-kataku tidak berlebihan.
Kebahagiaan ini adalah buah dari penantian panjangku, buah dari kesabaranku. Aku yakin ini takkan terlupakan.
Hanya disayangkan..., mungkin ini cuma sedetik saja. Ketika semuanya terungkap, kemarau tetaplah kemarau. Meski pendingin dinyalakan sepanjang hari, itu tak akan mampu menyegarkan tubuhmu dari keringat yang menetes.
Cinta hanya bisa diungkapkan. Sesak yang menghimpit rongga dada karenanya telah terlepas tanpa syarat. Akhirnya aku sadari ketika cinta bukan milikku. Cinta ini sebatas rasa yang takkan bergerak kemanapun. Kembali bertahan dan merendap menjadi lara dibalik kebahagiaan semu yang tercipta atas kata "cinta".
Senin, 07 Februari 2011
Mi Manchi
Midnight and I still wake up. Sleepy but I can't sleep yet.
Then you are on my mind. I think about you more than yesterday. I call your name. I talk about you more and more. Why am I do this?
Mi manchi... Miss the way you are...
Then you are on my mind. I think about you more than yesterday. I call your name. I talk about you more and more. Why am I do this?
Mi manchi... Miss the way you are...
Sabtu, 05 Februari 2011
Doesn't Know How You Feel
Menunggu adalah sebuah pekerjaan yang membosankan untuk sebagian besar orang dimuka bumi ini. Yuk taruhan, coba kamu tanyakan pada setiap orang yang ditemui. Mereka akan menjawab dengan cepat seprti tak ingin membuang waktu hanya untuk menjawab pertanyaanmu itu. Aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa bisa?
Kamu akan menemukan jawabannya ketika mengalaminya sendiri. Bagaimana rasa bosan menyerangmu disaat menunggu yang akan menyebabkan kepalamu pusing tiba-tiba. Kamu pun kemudian akan mengoceh tidak jelas karena kesal. Mungkin juga kamu akan mulai berpikir untuk menumpahkan kekesalanmu itu pada apa saja yang kamu anggap mampu mengurangi kebosananmu menunggu.
Itulah yang kulakukan saat ini. Aku menunggunya. Meski hanya untuk sesaat aku ingin menunggunya. Tentu saja aku menyadari menunggu itu membosankan, tapi demi diriku, aku rela menunggu dengan bahagia.
Dalam hati dan pikiranku bertanya-tanya apakah dia tahu. Reaksi apa yang akan dia perlihatkan kepadaku. Sungguh bimbang terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebaliknya terkadang aku senang dan rindu dalam penantian ~menunggu.
Sedikit tersiksa atas ketidaktahuanku tentang perasaan dia terhadapku. Akan tetapi aku sangat takut menghadapi kenyataan jika karena penantian ini dapat merenggangkan keakraban ini. Oleh sebab itu aku tak akan mengganggunya, aku menghargainya.
Suatu saat nanti ini menjadi kenangan paling indah untukku. Tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi itu bukan masalah. Ku tetap menunggu ~pada waktunya.
Kamu akan menemukan jawabannya ketika mengalaminya sendiri. Bagaimana rasa bosan menyerangmu disaat menunggu yang akan menyebabkan kepalamu pusing tiba-tiba. Kamu pun kemudian akan mengoceh tidak jelas karena kesal. Mungkin juga kamu akan mulai berpikir untuk menumpahkan kekesalanmu itu pada apa saja yang kamu anggap mampu mengurangi kebosananmu menunggu.
Itulah yang kulakukan saat ini. Aku menunggunya. Meski hanya untuk sesaat aku ingin menunggunya. Tentu saja aku menyadari menunggu itu membosankan, tapi demi diriku, aku rela menunggu dengan bahagia.
Dalam hati dan pikiranku bertanya-tanya apakah dia tahu. Reaksi apa yang akan dia perlihatkan kepadaku. Sungguh bimbang terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebaliknya terkadang aku senang dan rindu dalam penantian ~menunggu.
Sedikit tersiksa atas ketidaktahuanku tentang perasaan dia terhadapku. Akan tetapi aku sangat takut menghadapi kenyataan jika karena penantian ini dapat merenggangkan keakraban ini. Oleh sebab itu aku tak akan mengganggunya, aku menghargainya.
Suatu saat nanti ini menjadi kenangan paling indah untukku. Tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi itu bukan masalah. Ku tetap menunggu ~pada waktunya.
Rabu, 02 Februari 2011
Aku yang Memikirkanmu
Ini mungkin menjadi kesalahan dalam hidupku ketika aku memutuskan untuk menuangkannya kedalam tulisan ini. Akan tetapi hanya dengan ini aku mampu memaafkan diriku sendiri. Maaf padamu jika ini dapat melukai harga dirimu atas kelancanganku.
Aku bohong saat bilang akting ini membuatmu grogi dan tak bisa berkata-kata dengan jelas. Sesungguhnya akulah yang sangat gugup dan tak kuat untuk menanggung rasa terluka serta kehilangan akan dirimu pada saat bersamaan. Ingin sekali ku ralat kata-kata itu agar dirimu mengerti dan memahami maksud hatiku. Akh, mahal sekalikah harga sebuah kejujuran?
Nyaliku tak cukup berani untuk menyatakannya secara terus terang kepadamu. Cara itu terpikirkan begitu saja--spontanitas yang akhirnya membuat diriku menyesalinya. Menyesal karena aku melukai hati dan perasaanmu. Sedih disaat aku memikirkan ulang kembali peristiwa itu. Mengapa aku harus seceroboh itu?
Mungkin saja dirimu telah mengetahui apa maksud dari semua kata-kata yang disembunyika disebalik aktingku. Mungkin juga dirimu sungguh tak menyangka kenekatan yang kulakukan pada waktu itu. Mungkin diantara kita memang telah terjalin seutas rasa yang memberi kekuatan untuk tetap bertahan sebatas teman selama lebih kurang dua tahun terakhir. Kemungkinan akan selalu ada jika terus-menerus kita pikirkan bersama.
Harus kuakui bahwa ada kalanya aku memikirkanmu lebih. Berpikir bahwa kita tak sekedar teman atau sahabat. Kita bisa lebih dari itu. Bisakah?
Sebaiknya memang dirimu tak mengetahui kenyataan ini. Ada bebarapa hal dalam hidup ini yang lebih baik selamanya menjadi rahasia. Tak seorang pun diizinkan untuk mengetahuinya. Akan fatal akibatnya jika rahasia itu menjadi konsumsi publik.
Rindu ketika teringat akan dirimu akan kuobati dengan menghubungimu sesegera mungkin. Walaupun aku menyadari ada jarak yang begitu jauh tapi itu tak menghalangiku. Aku berandai-andai jika saja dirimu ada disini didekatku, didepan mataku, disisiku, hangat seperti inikah hubungan kita?
Jadi, katakan padaku apa yang harus kulakukan? Apa yang akan terjadi dalam hubungan kita kedepan? Dapatkah kita tetap berhubungan dengan baik setelah peristiwa ini?
Sungguh aku tak mengerti harus bagaimana.
Aku bohong saat bilang akting ini membuatmu grogi dan tak bisa berkata-kata dengan jelas. Sesungguhnya akulah yang sangat gugup dan tak kuat untuk menanggung rasa terluka serta kehilangan akan dirimu pada saat bersamaan. Ingin sekali ku ralat kata-kata itu agar dirimu mengerti dan memahami maksud hatiku. Akh, mahal sekalikah harga sebuah kejujuran?
Nyaliku tak cukup berani untuk menyatakannya secara terus terang kepadamu. Cara itu terpikirkan begitu saja--spontanitas yang akhirnya membuat diriku menyesalinya. Menyesal karena aku melukai hati dan perasaanmu. Sedih disaat aku memikirkan ulang kembali peristiwa itu. Mengapa aku harus seceroboh itu?
Mungkin saja dirimu telah mengetahui apa maksud dari semua kata-kata yang disembunyika disebalik aktingku. Mungkin juga dirimu sungguh tak menyangka kenekatan yang kulakukan pada waktu itu. Mungkin diantara kita memang telah terjalin seutas rasa yang memberi kekuatan untuk tetap bertahan sebatas teman selama lebih kurang dua tahun terakhir. Kemungkinan akan selalu ada jika terus-menerus kita pikirkan bersama.
Harus kuakui bahwa ada kalanya aku memikirkanmu lebih. Berpikir bahwa kita tak sekedar teman atau sahabat. Kita bisa lebih dari itu. Bisakah?
Sebaiknya memang dirimu tak mengetahui kenyataan ini. Ada bebarapa hal dalam hidup ini yang lebih baik selamanya menjadi rahasia. Tak seorang pun diizinkan untuk mengetahuinya. Akan fatal akibatnya jika rahasia itu menjadi konsumsi publik.
Rindu ketika teringat akan dirimu akan kuobati dengan menghubungimu sesegera mungkin. Walaupun aku menyadari ada jarak yang begitu jauh tapi itu tak menghalangiku. Aku berandai-andai jika saja dirimu ada disini didekatku, didepan mataku, disisiku, hangat seperti inikah hubungan kita?
Jadi, katakan padaku apa yang harus kulakukan? Apa yang akan terjadi dalam hubungan kita kedepan? Dapatkah kita tetap berhubungan dengan baik setelah peristiwa ini?
Sungguh aku tak mengerti harus bagaimana.
Langganan:
Komentar (Atom)