Senja, jam belum juga menunjukkan pukul 6 sore. Tepatnya setengah jam yang lalu aku duduk diteras kamarku. Mengamati langit sore yang beragam warnanya. Disebelah kanan dan kiriku langit berwarna abu-abu menandakan mendung akan mengundang hujan, sedangkan tepat ditengah-tengahku terlihat biru dan cerah.
Kuamati langit yang seluas samudera -lautan diatas daratan- itu dengan seksama. Samar-samar terlihat benda kecil yang meliuk-liuk seperti ular yang merayap. Oh ternyata sebuah layang-layang. Ukurannya mungkin sekitar satu cm dari tempat ku melihat, tapi aku yakin ukuran sebenarnya cukup besar.
Layang-layang itu tak sendiri. Sekitar satu depa ukuran tanganku dari ujung kanan ke ujung kiri ada bulan 3/4 yang besar berwarna putih pucat. Masih senja tapi bulan itu tak cukup sabar menunggu malam untuk memperlihatkan dirinya. Suatu pemandangan indah dan tak biasa ditengah kota besar. Jarang-jarang aku temui pemandangan seperti ini. Aku sangat menikmatinya dan perlahan-lahan ku tarik nafas menghirup segarnya senja ini. Kemudian perlahan-lahan lagi ku hembuskan keluar seolah ikut mengeluarkan segala yang ada didalam diriku.
Samar-samar ku dengar suara azan berkumandang. Pertanda telah masuk waktu magrib. Seruan bagi umat muslim untuk menunaikan shalat magrib. Kembali ku dongakkan kepala melihat langit. Tanpa ku sadari bulan itu tak terlihat lagi. Awan mendung menutupinya. Sedangkan layang-layang itu masih tetap meliuk-liuk. Entah siapa yang memainkannya, tapi sebaiknya ia menyudahi petualangannya diudara karena malam telah menjelang.
Aku pun akan mengakhiri keasyikan mengamati langit senja, layang-layang, dan bulan sore ini. Harapanku semoga malam ini bulan itu akan bersinar terang dan layang-layang tak lagi meliuk didalam gelap. Kemudian aku beranjak masuk, menutup pintu sedikit demi sedikit sehingga tertutup rapat.
Ini cerita tentang aku dan hidupku. Semoga hidup ini tetap indah meski ujian selalu menyapa ^^
Kamis, 17 Maret 2011
Rabu, 02 Maret 2011
Antara Aku dan Tuhanku
Kosong. Terasa ada ruang yang hampa didalam hatiku. Seperti gurun pasir yang hanya ada oase menghiasi padang tandusnya. Ibarat unta yang telah berhari-hari tidak diberi minum oleh pemiliknya.
Kekosongan dan kehampaan yang tiba-tiba kurasakan biasanya adalah pertanda bahwa ada yang salah pada diriku. Sesak yang menghimpit dadaku semakin membelenggu perasaanku dengan ketidaknyamanan. Apakah karena aku telah melupakan sesuatu yang sangat penting? Sehingga wajar saja seketika ini aku merasa sangat jauh dan ditinggalkan. Astaghfirullah....
Berkali-kali terucap istighfar dari mulutku disaat aku menyadari apa yang sesungguhnya aku alami. Aku terlalu lena dalam kebahagiaan duniawi sehingga alpa akan kebahagiaan yang hakiki. Bersenang-senang dengan keindahan dunia fana dan terlupa akan adanya keindahan lain yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Ini antara aku dan Tuhanku. Begitu tersesatkah hatiku hingga kehampaan didalam hati yang telah diisi dengan zikir dan doa belum mampu melegakan perasaanku. Ingin sekali rasanya menangis namun tak sedikit pun air mata yang keluar membasahi kedua pipiku. Hatiku merintih, berteriak memanggil Tuhanku, "Ya Allah...., astaghfirullahal 'adzim."
Sungguh berat yang menghimpit rongga dadaku. . . .
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini atas kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat. Ya Allah, terangilah pintu hatiku dengan Nur-mu karena sesungguhnya aku takut akan kegelapan."
Sebaris doa aku panjatkan kepada Tuhanku. Berharap agar terlepas dari kehampaan dan kekosongan yang senag merongrong batinku. Ketakutan menghampiri, jika Tuhan menjauhiku.
Pernahkah terpikir olehmu wahai temanku?
Jika Tuhan melupakan umat-Nya, apa yang akan terjadi?
Aku tak pernah sanggup memebayangkan kemungkinan yang terjadi. Sudah banyak contoh yang Dia berikan sebagai peringatan ketika kita sendiri yang melupakan-Nya. Bersegeralah untuk kembali mengingat-Nya. Hanya dengan mengingat Tuhan akan menjadi penawar dari segala kehampaan, kegundahan, dan kebekuan yang merupakan tanda-tanda dari hati yang sakit dan tertinggal oleh nikmat-Nya.
Memang benar bahwa manusia takkan pernah terlepas dari hubungan dengan Tuhannya. Manusia sangat membutuhkan Tuhan didalam hidupnya. Ketika bahagia yang dirasakan, jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Begitu pula sebaliknya ketika sedang diuji oleh-Nya, maka bersabar dan berserahlah kepada-Nya.
Tak akan ada ketenangan hati ketika Tuhan sedang menegurku. Gelisah dan gundah, kosong dan hampa. Oleh sebab itu, aku tak pernah mau dijauhi oleh Tuhanku. Berzikir, berdoa dan melantunkan ayat suci-Nya selalu kulakukan agar memperoleh ketenangan dan kesejukan hati.
Kekosongan dan kehampaan yang tiba-tiba kurasakan biasanya adalah pertanda bahwa ada yang salah pada diriku. Sesak yang menghimpit dadaku semakin membelenggu perasaanku dengan ketidaknyamanan. Apakah karena aku telah melupakan sesuatu yang sangat penting? Sehingga wajar saja seketika ini aku merasa sangat jauh dan ditinggalkan. Astaghfirullah....
Berkali-kali terucap istighfar dari mulutku disaat aku menyadari apa yang sesungguhnya aku alami. Aku terlalu lena dalam kebahagiaan duniawi sehingga alpa akan kebahagiaan yang hakiki. Bersenang-senang dengan keindahan dunia fana dan terlupa akan adanya keindahan lain yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Ini antara aku dan Tuhanku. Begitu tersesatkah hatiku hingga kehampaan didalam hati yang telah diisi dengan zikir dan doa belum mampu melegakan perasaanku. Ingin sekali rasanya menangis namun tak sedikit pun air mata yang keluar membasahi kedua pipiku. Hatiku merintih, berteriak memanggil Tuhanku, "Ya Allah...., astaghfirullahal 'adzim."
Sungguh berat yang menghimpit rongga dadaku. . . .
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini atas kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat. Ya Allah, terangilah pintu hatiku dengan Nur-mu karena sesungguhnya aku takut akan kegelapan."
Sebaris doa aku panjatkan kepada Tuhanku. Berharap agar terlepas dari kehampaan dan kekosongan yang senag merongrong batinku. Ketakutan menghampiri, jika Tuhan menjauhiku.
Pernahkah terpikir olehmu wahai temanku?
Jika Tuhan melupakan umat-Nya, apa yang akan terjadi?
Aku tak pernah sanggup memebayangkan kemungkinan yang terjadi. Sudah banyak contoh yang Dia berikan sebagai peringatan ketika kita sendiri yang melupakan-Nya. Bersegeralah untuk kembali mengingat-Nya. Hanya dengan mengingat Tuhan akan menjadi penawar dari segala kehampaan, kegundahan, dan kebekuan yang merupakan tanda-tanda dari hati yang sakit dan tertinggal oleh nikmat-Nya.
Memang benar bahwa manusia takkan pernah terlepas dari hubungan dengan Tuhannya. Manusia sangat membutuhkan Tuhan didalam hidupnya. Ketika bahagia yang dirasakan, jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Begitu pula sebaliknya ketika sedang diuji oleh-Nya, maka bersabar dan berserahlah kepada-Nya.
Tak akan ada ketenangan hati ketika Tuhan sedang menegurku. Gelisah dan gundah, kosong dan hampa. Oleh sebab itu, aku tak pernah mau dijauhi oleh Tuhanku. Berzikir, berdoa dan melantunkan ayat suci-Nya selalu kulakukan agar memperoleh ketenangan dan kesejukan hati.
Langganan:
Komentar (Atom)