Halaman

Kamis, 17 Maret 2011

Layang-layang Bulan

Senja, jam belum juga menunjukkan pukul 6 sore. Tepatnya setengah jam yang lalu aku duduk diteras kamarku. Mengamati langit sore yang beragam warnanya. Disebelah kanan dan kiriku langit berwarna abu-abu menandakan mendung akan mengundang hujan, sedangkan tepat ditengah-tengahku terlihat biru dan cerah.

Kuamati langit yang seluas samudera -lautan diatas daratan- itu dengan seksama. Samar-samar terlihat benda kecil yang meliuk-liuk seperti ular yang merayap. Oh ternyata sebuah layang-layang. Ukurannya mungkin sekitar satu cm dari tempat ku melihat, tapi aku yakin ukuran sebenarnya cukup besar.

Layang-layang itu tak sendiri. Sekitar satu depa ukuran tanganku dari ujung kanan ke ujung kiri ada bulan 3/4 yang besar berwarna putih pucat. Masih senja tapi bulan itu tak cukup sabar menunggu malam untuk memperlihatkan dirinya. Suatu pemandangan indah dan tak biasa ditengah kota besar. Jarang-jarang aku temui pemandangan seperti ini. Aku sangat menikmatinya dan perlahan-lahan ku tarik nafas menghirup segarnya senja ini. Kemudian perlahan-lahan lagi ku hembuskan keluar seolah ikut mengeluarkan segala yang ada didalam diriku.

Samar-samar ku dengar suara azan berkumandang. Pertanda telah masuk waktu magrib. Seruan bagi umat muslim untuk menunaikan shalat magrib. Kembali ku dongakkan kepala melihat langit. Tanpa ku sadari bulan itu tak terlihat lagi. Awan mendung menutupinya. Sedangkan layang-layang itu masih tetap meliuk-liuk. Entah siapa yang memainkannya, tapi sebaiknya ia menyudahi petualangannya diudara karena malam telah menjelang.

Aku pun akan mengakhiri keasyikan mengamati langit senja, layang-layang, dan bulan sore ini. Harapanku semoga malam ini bulan itu akan bersinar terang dan layang-layang tak lagi meliuk didalam gelap. Kemudian aku beranjak masuk, menutup pintu sedikit demi sedikit sehingga tertutup rapat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar