Halaman

Rabu, 09 Februari 2011

Melangkah Pergi

Rasa ini semakin tak menentu. Tak kubayangkan sebelumnya jika pengakuan tersiratku itu akhirnya berbalik menyakitiku. Aku pikir setelah semuanya diluahkan akan melegakan untukku. Ternyata dugaanku melesat --nyaris salah.

Telah kutanyakan kepadamu, apa yang harus kulakukan? Namun dirimu memberikan jawaban yang tak pasti dan cenderung mengabaikannya --itu yang kurasakan. Seakan dirimu menikmati pengakuanku dan menerimanya. Akan tetapi berbentur pada kenyataan bahwa diantara kita terpisah jarak dan waktu yang begitu besar.

Inginnya aku menjembatani semua itu. Berpikir berulang-kali, menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijadikan pilihan. Tapi berakhir dengan satu kesimpulan jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita hanya tercipta untuk pernah saling merasakan dan berbagi cinta yang tidak tersalur.

Apakah dirimu merasakan kegundahan ini? Sesungguhnya aku tak hendak begini namun apa dayaku. Keadaan yang mengalir begitu saja tak dapat aku bendung. Maaf seandainya ini dapat mengubah arah persahabatan kita menjadi tidak lebih baik, aku akan pasrah. Tak akan aku memaksamu untuk tetap bersahabat denganku.

Aku akan melangkah pergi. Cintaku ini nyata tapi tak bertuan. Rasa ini akan kuabadikan selamanya. Kan ku kenang sebagai hadiah terbaik yang pernah kuperoleh. Kebaikan hatimu, kasih sayangmu, kesabaranmu, kemanjaanmu, kehangatanmu, merdu suaramu, dan kedekatan kita adalah hal terindah untukku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar