Deg... Deg... Debar yang beberapa waktu terakhir ini menguasai hatiku semakin melemah...
Hati manusia selalu dapat berubah secara drastis, kapan pun dia mau. Beberapa saat yang lalu kita bisa merasakan kerinduan yang luar biasa. Namun beberapa saat kemudian kerinduan itu bisa menguap begitu saja. Setiap orang pernah mengalaminya. Tapi saat ini aku hanya akan bercerita tentang diriku sendiri. Tentang kerinduan ini terhadap dirimu. Keinginan untuk melihat wajahmu, mendengar suaramu, bahkan hanya sekedar mengintip aktivitasmu didunia maya.
Kamu --meskipun keberadaanmu semu-- mamapu menggugah perasaanku. Menyentuhku dititik paling dalam akan cinta. Begitu kuatkah kamu mengusik kehidupan asmaraku?
Namun sayang, kerinduan ini kurasakan seorang diri. Aku lelah untuk merasakan rindu yang tak berujung. Mentolerir sesuatu yang belum memiliki kepastian adalah hal yang ingin kuhindari. Cukup sudah bertepuk sebelah tangan --tak akan pernah berbunyi.
Pada kenyataannya akhir-akhir ini kamu tidak pernah memperlihatkan hal yang sama. Aku rindu ketika kamu bilang "aku rindu kamu". Kalimat itu terucap pada saat bahwa kamu tahu aku juga sangant merindukanmu. Haruskah ini menjadi sulit untuk dimengerti?
Untuk siapakah rindumu kini? Rindumu bukan milikku --hatiku bicara. Kamu tak mudah untuk dipahami, terlalu jauh untuk diperhatikan sedetil mungkin. Begitu besar tanda tanya yang kamu tinggalkan untukku.
Jika memang rindumu diberikan pada seseorang disana, sisakan sedikit demi perasaanku yang terluka. Kan ku simpan dilubuk hatiku dan ku kunci rapat-rapat agar tak dapat kau ambil kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar