Musim telah berganti. Kini saatnya kemarau yang berarti cuaca akan sangat panas dan gerah. Suatu kondisi yang tidak mengenakkan untuk beraktivitas diluar ruangan. Oh iya, bahkan musim hujin juga begitu. Ternyata aku yang khilaf. Tuhan terlalu sempurna sehingga tak ada seorangpun yang menang dari-Nya.
Diawal musim panas ini duniaku seakan mendapat kesejukkan alami. Meskipun tersengat dan terpanggang matahari tak begitu kurasakan. Ini anugerah yang harus aku syukuri. Tidak semua orang mengalami hal yang sama. Bagiku ini adalah keberuntungsn ysng lebih dibandingkan dengan lainnya.
Je suis tombé amoureux. Inilah penyebab dari kebahagiaanku dimusim kemarau. Ibarat gurun pasir yang tiba-tiba kejatuhan hujan, cukup membuatnya terlihat basah dan tidak gersang. Bukankah kata-kataku tidak berlebihan.
Kebahagiaan ini adalah buah dari penantian panjangku, buah dari kesabaranku. Aku yakin ini takkan terlupakan.
Hanya disayangkan..., mungkin ini cuma sedetik saja. Ketika semuanya terungkap, kemarau tetaplah kemarau. Meski pendingin dinyalakan sepanjang hari, itu tak akan mampu menyegarkan tubuhmu dari keringat yang menetes.
Cinta hanya bisa diungkapkan. Sesak yang menghimpit rongga dada karenanya telah terlepas tanpa syarat. Akhirnya aku sadari ketika cinta bukan milikku. Cinta ini sebatas rasa yang takkan bergerak kemanapun. Kembali bertahan dan merendap menjadi lara dibalik kebahagiaan semu yang tercipta atas kata "cinta".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar