Halaman

Minggu, 13 Februari 2011

Ketika Kau Pergi

Selalu butuh waktu untuk menyadari keadaan yang sesungguhnya terjadi. Tak terasa kesepian mulai melanda hari-hariku. Kemana keceriaan yang dulu menemaniku? Ibarat semut yang kehilangan koloninya, tertatih mencari arah yang harus dituju. Kebingungan meskipun dihadapannya ada jalan untuk dilalui.

Aku bukan seekor semut. Sedikitpun tak terbayangkan olehku jika harus berjalan seorang diri, berkelana tanpa tahu harus kemana. Oh Tuhan, jangan tinggalkan diriku sendiri seperti ini. Berikan aku petunjuk tentang jalan yang boleh aku lalui.

Inilah yang terjadi ketika kau pergi meninggalkanku. Separuh dari jiwaku telah pergi bersama kepergianmu. Sebentuk wajah yang terbiasa kupandangi tanpa rasa jemu ikut berlalu. Begitu berpengaruhnya kepergianmu dalam hidupku, begitu menyakitkan. Semua kata-kata cinta untukmu menghilang tiba-tiba meskipun hatiku masih ingin mangatakannya padamu. Tapi untuk apa???

Tak pernah kurasakan yang sesakit ini ketika ditinggalkan. Benar, ini bukan yang pertama kalinya tapi mengapa ini yang justru sangat menyakitiku? Seharusnya aku baik-baik saja.

Apa aku harus bilang, aku baik-baik saja? Rasa rindu ini membuatku tidak baik-baik saja. Rasa sakit ini membuatku nyeri dihati. Rasa cinta ini membuatku kecewa setengah mati. Setiap yang kulakukan mengingatkanku akan dirimu.

Baiklah, aku akan merelakan kepergianmu. Mengikhlaskan kehilangan dirimu. Melapangkan langkah-langkahmu menuju tempat terindah. Aku tahu bahwa kita tercipta berpasangan. Telah kuberikan jiwa ragaku padamu. Sisakan sedikit untukku yang tertinggal disini agar aku bisa bangkit dari kesedihan ini. Selamat jalan sayang... I love You.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar