Halaman

Minggu, 21 Februari 2010

Nandita Itu....

Ini cerita masa-masa tersulitku. Jika memiliki kesamaan cerita dengan kalian, tetap saja ada momen yang berbeda. Semoga cerita ini tak membuat bosan bagi yang baca. Awalnya aku tak tahu harus memulai cerita ini dari mana karena setiap alurnya saling terkait.

Aku putus dengan pacarku. Dia yang kucinta meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Menikahi orang lain adalah pilihannya. Cinta ini rumit. Banyak hal yang tak terduga terjadi dan membuatku shok.

Waktu terpurukku ketika si dia bersanding dengan pilihan barunya. Aku diundang untuk menghadirinya. Akh, tahukah dia itu berat kulakukan? Tapi demi membuktikan padanya bahwa aku ikhlas melepasnya kepelukan lelaki itu, ku hadir juga.

Siapa yang bisa aku ajak? Ini masalahnya. Akhirnya ku pilih satu nama, Nandita. Aku harap dia mau menemaniku ke pesta pernikahan si dia. Ku coba menghubunginya, harap-harap cemas. "Dit, mau k temankan aku ke undangan dia? Mau ya, Dit."

Tak lama kemudian aku mendapatkan balasannya."Boleh dech." Singkat, dia mau menemaniku. Ku buat janji dengannya. Janji pukul 4 sore ditepati. Dia tampil cantik dan menarik. Ini yang aku butuhkan. Aku harus datang tanpa terlihat sedih atau menyedihkan.

Singkat cerita, niat yang hanya minta ditemani pergi sebentar berlanjut hingga malam hari. Nandita benar-benar menyediakan waktunya untukku. Aku tak enak hati padanya. Walau bagaimana pun aku bersyukur karena ada seseorang yang mau meluangkan waktunya menemaniku, mendengarkan curahan hatiku, dan menghiburku. Mungkin karena dia juga pernah mengalami hal yang sama sehingga ada kedekatan anatara kami.

Namun harus kuakui ada sedikit rasa untuknya. Disaat-saat tersulitku dia ada. Berbagi canda dan tawa yang mampu membuatku lupa terhadap masalah yang aku hadapi hari itu. Aku menikmati kebersamaan kami. Dia tak jemu menggodaku dengan senyumannya, ucapannya, dan tingkah-lakunya. Jangan pikir sesuatu yang negatif tentang dia. Justru karena dia aku bisa tegar dan berani datang ke pesta itu.

Kini ada sesuatu dihatiku, ada kerinduan lain yang ku rasa. Adakah cinta yang baru telah hadir dalam hatiku? Akankah bisa secepat ini? Oh aku galau. Nandita bilang padaku, sekarang adalah waktuku untuk berbenah hati dan diri demi melewati masa-masa sulit ini. Cinta yang kurasakan saat ini mungkin hanya terbawa perasaan, bukan rasa yang sesungguhnya.

Sungguh tak ingin begini. Tak berharap jadi seperti ini. Tetapi inilah yang terjadi kini. Jadi apa yang harus kulakukan kini? Ya Allah, berikanlah jawaban atas masalahku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar